Keranjang Anda kosong!
Indonesia Battery & Energy Storage Roadmap to support 102 GW capacity in renewable energy
Menatap Masa Depan Energi Indonesia: Strategi Baterai dan Penyimpanan Energi Menuju 102 GW Energi Terbarukan
Jakarta, 17 September 2025 – Indonesia sedang berada di titik balik penting dalam perjalanan menuju transformasi energi berkelanjutan. Hal ini tercermin jelas pada pembukaan IEE Series 2025: Electric & Power Indonesia, di mana tema hari pertama mengangkat diskusi strategis seputar “Indonesia Battery & Energy Storage Roadmap to Support 102 GW Capacity in Renewable Energy.”
Transformasi ini bukan sekadar ambisi. Pemerintah, melalui RUPTL 2025–2034, menetapkan bahwa 76% dari penambahan kapasitas pembangkit listrik baru akan berasal dari energi terbarukan, dipimpin oleh tenaga surya, panas bumi, air, dan bioenergi—disertai dukungan teknologi penyimpanan modern seperti battery energy storage system (BESS), serta pengembangan smart grid dan jaringan distribusi sepanjang hampir 200.000 km.
“Kita sedang membangun fondasi bukan hanya untuk ketahanan energi, tetapi juga untuk pertumbuhan ekonomi yang hijau dan inklusif,” ungkap M. Padang Dirgantara, Executive VP Loan Development & Project Licensing, Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, dalam sambutan pembukaan.
Kolaborasi Jadi Kunci Transisi Energi
Mengembangkan ekosistem penyimpanan energi bukan tugas pemerintah semata. Dalam keynote-nya, Muhadi, Koordinator Perencanaan Transmisi Tenaga Listrik (Ditjen Gatrik, Kementerian ESDM), menekankan pentingnya kemitraan strategis antara PLN sebagai operator sistem, investor swasta, dan mitra internasional.
“Kita tidak bisa bergerak sendiri. Keberhasilan roadmap ini sangat bergantung pada kerja sama multipihak untuk mempercepat transisi energi secara global,” tegasnya.
Belajar dari Korea: Smart Grid, ESS, dan Ekosistem EV
Sesi presentasi dimulai dengan Marvin Reinhart dari Indonesia Battery Corporation (IBC) yang membahas strategi Korea Selatan dalam pengembangan smart grid dan ESS (energy storage system).
Dengan target 121,9 GW energi terbarukan pada 2038, Korea menjadi pelopor di Asia dalam Demand Response (DR), Vehicle-to-Grid (V2G), dan digitalisasi infrastruktur energi—termasuk ADMS, PMU, dan Wide Area Monitoring.
“Indonesia dapat mengadopsi solusi Korea untuk mikrogrid di wilayah kepulauan dan sistem kelistrikan berbasis AI. Peluang riset bersama dan co-investment terbuka lebar,” kata Marvin.
Elektrifikasi Transportasi Umum: Tantangan & Peluang dari Transjakarta
Transformasi energi juga menyentuh sektor transportasi. Daud Joseph dari PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mengungkapkan roadmap ambisius: 50% armada bus nol emisi pada 2027, dan 100% pada 2030.
Dengan lebih dari 370 juta perjalanan penumpang per tahun, tantangan terbesar adalah stabilitas teknologi, infrastruktur pengisian, dan biaya operasional. “Kami butuh baterai yang ringan, tahan lama, dan mampu menjangkau minimal 250 km per hari,” ujar Daud.
Transjakarta memproyeksikan kebutuhan energi hingga 1.1 GW per hari untuk mengoperasikan seluruh armada listrik—membuka peluang besar bagi investor swasta dalam pengembangan stasiun pengisian dan suplai energi terbarukan.
Menjadi Pemain Global dalam Rantai Pasok Baterai EV
Peluang ekonomi dari sektor ini sangat besar. Chang Jae Won, VP dari Korean Smart Grid Association (KSGA), memaparkan bahwa Indonesia berpotensi menjadi pusat industri baterai EV global, berkat cadangan nikel dan kebijakan hilirisasi yang agresif.
Proyek-proyek strategis seperti Project Dragon—kerja sama antara IBC dan raksasa global seperti CATL—menargetkan kapasitas produksi sel baterai hingga 15 GWh per tahun pada 2030.
Namun tantangan tetap ada: mulai dari lemahnya riset lokal, minimnya alih teknologi, hingga kebutuhan akan regulasi yang lebih stabil. “Kalau sukses, kontribusi ekonomi bisa tembus Rp 3.100 triliun dan menurunkan emisi karbon hingga 9 juta ton per tahun,” ungkap Chang.
Mendorong Industri Dalam Negeri Lewat TKDN dan Kabel Hijau
Pembicara terakhir datang dari sektor industri pendukung. Nugroho Agus Prastowo dari PT Supreme Cable menekankan bahwa peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di sektor kelistrikan akan menciptakan lapangan kerja dan menghemat devisa negara.
Hal senada disampaikan oleh Alvin Bambang dari PT Kabelindo Murni Tbk., yang menegaskan peran aktif perusahaannya dalam mendukung proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia.
“Kabelindo telah hadir lebih dari 50 tahun, dan kini kami berkomitmen menjadi mitra industri energi hijau,” pungkas Alvin.
Kesimpulan: Momentum Besar, Tantangan Nyata
Hari pertama IEE Series 2025 menunjukkan bahwa roadmap Indonesia untuk energi terbarukan tidak hanya ambisius, tapi juga realistis—dengan syarat adanya kolaborasi, keberlanjutan kebijakan, dan investasi pada inovasi teknologi.
Dengan ekosistem yang berkembang—dari kebijakan nasional, infrastruktur publik, hingga manufaktur lokal—Indonesia tengah memantapkan diri sebagai pemain utama dalam transisi energi di kawasan Asia Tenggara, dan bahkan dunia.
Search
About
We are Indonesia Smart Grid Initiative, dedicated to advancing Indonesia’s electricity sector by focusing on the development and implementation of smart grid technologies, renewable energy solutions, and innovative energy systems.
Our tagline is to be a trustworthy model in the effort of collaborating enhanced technology in the field of energy and IT towards Smart Indonesia.
Categories
Recent Posts
- Indonesian Delegation Presents ArGi at ISUW 2026: Energy System Solutions for Archipelagic Nations
- PJCI, MASTEL, and MKI Attend ISUW 2026 in India: Expanding Global Collaboration for Digital Energy Transformation
- Closing Remarks: Building the Future of Villages Through Collaboration.
- Friendcom Tech Indonesia Promotes Village Connectivity through Digital Communication Solutions
- Pamerindo Indonesia Strengthens the Village Innovation Ecosystem through Technology Exhibition Collaboration
Tags
Gallery









